Terima Kasih Senja, Engkau Telah Mengajarkanku Arti Keikhlasan dan Mencintai Kehilangan~

Featured Image

Aku memiliki satu kondisi yang selalu membuatku senyum mengangkasa, berteriak dan tertawa tak henti untuk bercerita, sebagai saksi saat hati kian mendera dan saat pikiran sedang menggema. Kondisi yang selalu melupakan makna hampa, berbisik kata merona, cantik karena jingga yang berbahasa, ku kenalkan, dia yaitu senja.

Aku merasa bahagia dan mencintainya, karena senja, aku dapat leluasa menjamah kata, merekrut asa, dan beraksara dalam cinta. Langit usai menciptakan sela rindu yang kian membuncah. Menghirup angin yang terus diberi kesempatan menengadah. Senja pun usai mengetuk hatiku dengan ramah, membagikan cinta cantik dan menggenggam jemari tanpa bantah, tapi sekarang hanyalah berbatas PERNAH.

Aku sedang bertanya-tanya pada waktu, mengapa senja sangat cepat berubah haluan. Jingga nya segera berlari menuju peraduan. Ah..! Mengapa kondisi nggak cukup panjang untuk kita habiskan dan mengapa waktu malam hanya sebentar kita nikmati berdua untuk berjalan? Bukankah kita berjanji di hadapan Tuhan. Bahwa kita akan terus mencintai tanpa beralasan? Dan menggenggam kuat ketika sedang kedinginan?

Aku tersadar, perihal senja yang hanya sebentar. Senja yang hanya menjamah tak terkejar. Senja usai mengajarkanku kondisi yang paling singkat dan memberi ku pengertian untuk mencintai kehilangan.

Aku sadar, senja yaitu penjemput malam yang terabaikan. Kini terdapat bayang yang belum berhasil diselamatkan, adalah merindukanmu sedang berjalan tanpa arahan dan tujuan. Dari senja, aku akan belajar mengikhlaskan tanpa harus melupakan. Karena dia sangat cantik, jejak langkah kita dalam kenangan. Sejarah pertemuan yang harus berubah menjadi perpisahan. Nggak terdapat lagi senja yang dinantikan.

Aku menguatkan diri di suatu lembaran pagi. Berkutat hening dalam sebuah dentingan kondisi. Merangkak demi tahap, seakan menyanggah diripun membutuhkan bembarap. Aku, yang harus bergegas pergi dari rindumu yang harus pernah ku nikmati sendiri dalam malam dan udara yang sunyi.

Untuk kamu yang sudah ku titipkan makna cemburu. Masih bolehkah aku menggantungkan kata rindu? Meski ku tau, kini peradapan pernah membeku, mengadu pun pernah kepada abu. Pergilah, nggak terdapat yang mengharu, tengok sesekali ke masa kemudian, kalau terdapat aku yang selalu menikmati kondisi senja.

Terima kasih senja yang pernah mengajarkan perihal arti keikhlasan dan mencintai kehilangan. Terimakasih senja yang dulu sudah mengizinkan ku membumikan cemburu dan melangitkan rindu. Mungkin kini semua rasa ku akan membeku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini adalah kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya adalah tanggung jawab pengirim.”

Related Articles

One Comment

  1. dear ihsan magazine..

    mohon maaf saya mau tanya, apakah ihsan magazine ini bekerja sama dengan hipwee?
    karena saya liat kok beberapa tulisan di web ini, hasil dari hipwee.
    tapi gak mencantumkan si penulisnya.

    Terimaksih..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close