Kini Saatnya Wujudkan Keinginan Orangtua, Soal Renjana dan Mimpi Nanti Pasti Ada Waktunya

Kalau ditanya soal mimpi, kamu selalu menggebu dan tak henti bercerita. Pun dengan renjana yang selama ini buat hidupmu lebih berwarna daripada biasanya. Dua hari dua malam rasanya tak akan cukup untuk menyelesaikan kisah soal renjanamu itu. Namun hidup selalu penuh dengan kejutan. Sejak kurang hingga sebesar ini, mimpi dan renjana yang usai kamu pupuk dan tata untuk masa depan, dengan enaknya di-tweak semesta sangat saja. Terdapat saja hal-hal yang menghalangimu untuk meraih mimpi dan rejanamu.

Dari berbagai hal-hal yang menghadang jalannya mimpi dan renjana itu, kamu sangat nggak dapat menolak satu hal ini: keinginan ayah dan ibu. Masuk akal sih zaman usai berkembang, dan kedua orangtua kini tak dapat lagi ramai mengekang. Namun dari lubuk hatimu yang sangat dalam, keinginan orangtua ini rasanya harus segera diwujudkan sebagai bukti kebaktian.  Untukmu yang terpaksa menunda meraih mimpi dan sejenak menghentikan renjana, hal-hal ini tentu khatam kamu rasa. 

1. Sama seperti kebanyakan orangtua, mereka bersikukuh agar kamu dapat menjadi sesuatu sesuai keinginan mereka

Kak, udah daftar CPNS? Coba dulu kak, siapa tahu nasib apik kakak sungguh sungguh di sana.

Tidak hanya abdi negara, tapi segelintir pekerjaan dengan gaji (beserta tunjangan di hari tua) lainnya seringkali ayah dan ibumu sebut-sebut dalam obrolan. Masuk akal sih sekarang umurmu usai kepala dua, hidup harusnya usai kamu kendalikan sepenuhnya. Kekangan atau aturan yang buatmu tak leluasa bergerak dari ayah dan ibu harusnya juga usai tak lagi menjerat seperti ketika kurang dulu.

2. Awalnya egomu menolak. Namun lama-lama hati kurang dan logikamulah yang akhirnya tergerak

Namun lagi-lagi semesta bekerja sesuai kehendaknya. Kamu yang dulu antipati dengan pekerjaan yang sering disebut-sebut ayah dan ibu itu, kini jadi ragu-ragu.

Mau meninggalkan mimpi tapi kok rasanya kamu cemen sekali. Namun kalau tak dijalani, kamu takut jadi anak yang tak tahu diri?!

Akhirnya setelah dipikirkan matang-matang, bahkan sampai kamu terbangun di tengah malam, sebuah keputusan besar pun diambil. Mohon maaf ego dan sederet mimpi yang pernah dipupuk lama, kalian sepertinya harus sejenak ditunda. Alasan pada akhirnya hati kurang dan logikamulah yang bergerak dan mengambil kendalinya. Dengan (kecil) berat hati, kamu memutuskan untuk mewujudkan mimpi ayah dan ibu terlebih dahulu. Walaupun pekerjaan yang tengah kamu usahakan ini terlihat ngehe dan yang kelihatan begitu jauh dari passion-mu.

three. Bukan, semua ini kamu lakukan bukan untuk gaji yang lumayan atau sederet tunjangan. Namun semua kamu lakukan untuk memenuhi keinginan dua orang yang kamu cinta mati-matian

Halah, ngaku aja kalau gaji jadi XXXX itu lebih menjanjikan. Daripada jadi penulis kan cuman dapat buat jajan doang~

Tidak hanya satu dua, tapi ramai cibiran dan omongan meremehkan datang ketika keputusan untuk memenuhi keinginan orangtuamu ini kamu lakukan. Padahal jauh dari lubuk hatimu yang sangat dalam, kamu hanya ingin membalas segala kebaikan yang pernah ayah dan ibumu berikan. Alasan prinsipmu hanya satu: selagi masih terdapat kesempatan, apapun akan kamu lakukan untuk memenuhi apa yang ayah dan ibumu inginkan. Toh umur seseorang tidak terdapat yang tahu. Jadi sebelum kondisi mereka berdua habis di dunia, sekuat dan se-ngehe apapun tantangannya akan kamu terjang.

four. Meski terdapat aja yang sempat menyurutkan langkahmu, tapi saat melihat raut muka ayah dan ibu, semangatmu kembali menggebu

Tidak hanya pandangan meremehkan serta omongan orang, tapi dirimu sendiri pun sempat meragukan. Pertanyaan “Yakin nih mau gabung seperti mereka? Yakin nih passion-mu mau ditinggalin gitu aja?” memenuhi kepala tiap kali kamu berkaca. Sempat beberapa kali kamu hampir mundur karena semangatmu pelan-pelan mulai kendur. Namun ketika kembali melihat raut optimis dari ayah dan ibu, kamu seperti ditampar dan diperlihatkan tujuan utamamu selama ini: mewujudkan sangat nggak datu dari berbagai impian ayah dan ibu.

five. Urusan mimpi dan renjanamu dapat menunggu. Sekarang yang terpenting yaitu dapat mewujudkan keinginan ayah dan ibu. Apapun itu…

Sebagai anak, kamu sepenuhnya percaya bahw ayah dan ibumu hanya ingin yang terbaik untukmu. Meski ya…keinginan mereka kecil sedikit sesuai denganmu. Pun dengan mata dan kepalamu sendiri, kamu menyaksikan betapa gigihnya kedua orangtuamu berjuang agar kamu dan adik-adikmu terpenuhi keinginannya. Hal itulah yang semakin membulatkan tekatmu untuk segera mewujudkan apa yang mereka inginkan, meski mimpi yang selama ini kamu tata, harus kecil dinomorduakan.

Kamu sadar bahwa memilih untuk tetap menjalani mimpi dan kecil egois pun tak apa dilakoni. Namun inilah pilihan yang sekarang sedang kamu seriusi. Untukmu yang dengan lapang dada mendahulukan keinginan kedua orangtua, tak apa sejenak menunda mimpi dan menomorduakan renjana. Toh demi dua orang tercinta yang entah sampai kapan dapat memelukmu di dunia, pengorbanan kurang ini rasanya tak terdapat apa-apanya~

Tetap semangat ya! Mimpi-mimpimu itu, tentu akan menemukan jalan kalau sungguh sungguh usai waktunya. Kamu hanya perlu percaya 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close