Inilah Alasan Logis Kenapa Menikah itu Tentang Kesiapan, Bukan Malah Dibuat Ajang Balapan!

Dalam urusan menikah, wajib selalu terdapat harapan bahwa pernikahan yang nantinya dijalani bukan hanya sekedar pernikahan dalam keadaan singkat saja, tetapi akan menjadi pernikahan yang pertama sekaligus terakhir sampai menutup usia. Pasti saja, diperlukan sikap bijak dan hati-hati dalam memilih dan menentukan si dia yang akan menikah denganmu dan menjadi pasangan hidupmu karena pernikahan yang cenderung terburu-buru dalam memilih dapat beresiko buruk pada pernikahan yang nantinya berjalan.

Akhir-akhir ini saya menyadari kalau paling ramai remaja yang usianya sekitar 20 tahunan bahkan kecil, usai terobsesi atau bercita-cita untuk menikah. Tepatnya, mereka merasa usai waktunya untuk memikirkan pernikahan atau dengan siapa akan menikah nanti. Sebagian orang yang saya kenal. “maaf kalau terdapat yang merasa”, malahan terdapat yang takut sekali kalau nggak mendapatkan jodoh atau nggak akan menikah. Apa mereka salah memikirkan pernikahan? nggak, terus apa masalahnya? masalahnya yaitu mereka belum waktunya menikah. Oke kalau memikirkan pernikahan dalam arti mencari tau apa yang perlu dipersiapkan untuk berumahtangga, tapi bukan menikah sekedar mencintai seseorang sampai maut memisahkan (romantisme basi!).

Mungkin terdapat yang beralasan “yach…kan kita harus mengenal calonnya dulu sebelum menikah, kalau ingin menikah umur 22 ya terdapat baiknya mengenalnya sejak umur sebelum 20 dong. Neatly… kalau gitu saya balik tanya, kalau ingin menikah umur 22, kira-kira seandainya dikaruniai anak, dapat tidak ngasih santap anak? dan kira-kira kalau usai umur segitu dapat tidak hidup tanpa minta lagi dari ortu?

Neatly, saya sendiri orang yang baru dalam hal pernikahan ini. Secara sadar saya juga tidak ingin hidup sendiri sampai akhir hayat, dan saya juga nggak telah berniat untuk menikah di usia di mana ramai teman usai memiliki three atau bahkan four orang anak. Tapi..terlepas dari waktu saya ketika ini, saya hanya heran, kenapa sih ramai orang yang takut nggak menikah? Ketika ini saya mengenal paling ramai wanita di atas 25 tahun yang usai mulai gelisah mencari calon pasangan hidupnya.

Sejujurnya saya hampir jadi orang seperti itu. Saya bahkan usai meminta jodoh dari ortu saya, tapi… orangtua tidak mau, saya disuruh nyari sendiri. Saya juga sempat berkencan buta dengan beberapa orang yang sesuai kriteria umum, tapi saya masih waras untuk nggak membabi buta dan nggak terdapat yang mengena di hati. Ramai yang menasihati saya untuk “jangan pilih-pilih, umur jalan terus”, tapi.. rasanya commentary itu salah. Saya lebih setuju untuk bilang kita masuk akal harus pilih-pilih, karena ini bukan sekedar pernikahan yang berupa pesta, surat nikah, memiliki anak demi meneruskan keturunan, tapi ini lebih berat ke orang yang harus dihadapi seumur hidup. Harus memilih orang yang masuk akal dapat sejalan, seia sekata dan dapat mengerti dan dimengerti.

Kembali ke para remaja 20 tahunan yang usai memikirkan menikah, mungkin mereka kebanyakan nonton sinetron yang selalu glad finishing, atau mungkin mereka hanya membaca kisah serial indah ataupun dongeng pengantar istirahat di mana ceritanya selalu berakhir bahagia. Apakah mereka telah membaca perihal “bagaimana mengelola keuangan”, sedangkan mungkin saja mereka selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari orangtua mereka tanpa mencari. Atau, “peran suami dan istri dalam rumahtangga”, atau “masalah-masalah yang mungkin timbul dalam keluarga” atau “cara berargumen yang bagus”. Semua judul itu fiktif, tapi setidaknya semua itu usai harus terpikirkan sebelum menikah. Selain masalah bagaimana membesarkan anak, dsb.

Kalau dari beberapa berita yang Saya baca, gadis remaja biasanya dibodohin oleh pria yang tak bertanggung jawab yang keadaan melakukan kejahatan itu ngakunya “akan bertanggung jawab”. Halah, tidak usah percaya deh dengan omongan busuk dari lelaki yang tak bisa mengendalikan dirinya. Yakinlah, kalau sekarang dia ngomong gitu, besok-besok dia akan bilang: usai lupa tuh atau menghilang tanpa jejak atau ya macem-macemlah cara mengelak dari tangung jawab. Heran yah, masih usia belasan kadang usai berani-beraninya bilang akan bertanggung jawab, lebih heran lagi terdapat gitu gadis belasan tahun percaya omongan cowok buaya?

Buat para remaja yang masuk kategori belasan dan awal 20 tahunan. Sebelum memikirkan dengan siapa yah nanti menikah, sebaiknya cari tahu lebih ramai mengenai pernikahan. Cari tahu yang pait-paitnya, jangan yang manis-manisnya doang. Cari tahu apa saja masalah yang muncul dalam pernikahan. Sedangkan buat teman-temanku yang belum menemukan pasangan yang akurat, jangan terburu-buru dalam memilih, pertimbangkan apakah menikah dengan orang itu akan lebih bagus? kalau emang nggak lebih bagus, lebih bagus jangan. Lagipula, menikah itu nggak tergantung usia. Yakin dan percaya saja kalau jodoh itu ditentukan oleh Tuhan (sebagian orang mungkin ditakdirkan telat menikah, seperti saya !).

Pikirkan Apik-Apik Pilihanmu

Lebih bagus terlambat menikah asalkan kamu dapat mendapatkan pilihan jodoh yang akurat untuk sebuah pernikahan yang abadi sampai akhir nanti daripada menikah cepat dan terburu-buru namun berujung perceraian karena menyesal usai memilih pasangan yang nggak bagus.

Kesimpulannya jangan menikah kalau hanya untuk menyenangkan orang lain atau karena dikondisikan atau karena ketakutan akan kesepian di hari tua atau karena dipaksa lingkungan. Menikah bukan karena usia. Menikah sekali untuk selamanya, sampai maut memisahkan (bukan karena usai nggak terdapat kecocokan lagi!). Ah sutralah.. berlebihan ramai teori!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini ialah kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya ialah tanggung jawab pengirim.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close