Along With The Gods 2. Romantisme Keluarga yang Terbungkus Rapi dengan Alur Fantasi

Featured Image

Sebagai movie terlaris ketiga di Korea Selatan, At the side of The God jadi tontonan yang bikin penasaran ramai penyuka hiburan Korea di seluruh dunia. Sajian dari movie fantasi terbukti dapat diterima oleh semua kalangan. Dibandingkan dengan instalasi pertamanya, sekuel movie ini terbilang lebih apik dan lebih kompleks dari segi kisah. Tidak lagi soal jiwa teladan yang berjalan menuju reinkarnasi, namun juga perihal para father or mother itu sendiri. Sayangnya, alur maju mundur disajikan agak sedikit rapi. Pada babak awal, movie ini cenderung datar karena masih meraba konflik yang akan dihadirkan di babak kemudian.

Korea Selatan benar benar terkenal dengan drama dan Okay-Pop yang ramai bikin remaja klepek-klepek. Younger Lex bahkan rela akting dipukuli demi cari perhatian penggemar girlband Korea. Dalam ranah perfilman, Korea Selatan juga terhitung apik dalam membawakan tayangan. Tercatat beberapa movie jadi sorotan dunia dan laris dipasarkan bahkan di luar negeri.

Sekuel pertama movie At the side of The Gods: The Two Phrases sendiri sebenarnya telah jadi movie ketiga terlaris di Korea sepanjang masa. Penampilan para aktornya yang tidak main-main dan kisah fantasi aneh yang begitu dekat dengan kepercayaan masyarakat, jadi kunci bahwa movie ini susah ditolak. Nah, berikut Hipwee Hiburan bakal mempersembahkan evaluation atau ulasan dari sekuel At the side of The God: The Final 49 Day. Cekidot!

Plot fantasi dipadupadankan dengan kepercayaan masyarakat bikin movie ini unik. Alur kisah juga tidak mempersembahkan kesempatan buatmu menebak-nebak plot twist

Geng afterlife, cocok nih buat foto quilt album. by way of londonkoreanlinks.web

Plot fantasi layaknya movie ini benar benar telah bukan hal asing di dunia hiburan Korea. Keberhasilan serial Goblin membuktikan bahwa penonton, terutama penyuka hiburan Korea, terbuka dengan hal-hal di luar nalar. Asalkan terdapat oppa-oppa sih tidak masalah, ya? Bungkus fantasi yang bahkan jauh dari bayangan masyarakat Indonesia soal ‘akhirat’ ini mungkin pada awalnya susah diterima mereka yang terbiasa menonton movie nonfantasi. Namun lambat laun, ternyata inti dari pesan yang ingin diceritakan lebih kompleks dari sekadar fantasi.

Jangan kaget kalau ramai alur maju mundur yang akan kurang membuatmu menyusun puzzle ceritanya. Pada akhir kisah benar benar bakal terdapat plot twist yang cukup susah ditebak. Tentunya kamu harus nonton sendiri dong, daripada kena bocoron di sini. Nanti tidak asyik lo~

Nilai-nilai kemanusiaan ramai ditampilkan secara tersirat. Perang, belas kasihan, pengkhianatan, hingga memaafkan, disampaikan dengan rapi di dalam bungkus fantasi

Jadi direinkarnasi tidak, ya? by way of kpopchart.web

Tidak melulu soal CGI dan scorring, penonton justru akan melupakan beberapa hal teknis dalam movie. Terfokus pada kisah dan latar belakang para father or mother/malaikat maut dalam menjalani 1.000 tahun pengabdiannya, alur yang maju mundur serta permasalahan masing-masing tokoh membuat penonton kurang sibuk.

Namun dari situlah kita dapat melihat sekian banyak pesan kemanusiaan yang sebenarnya ingin disampaikan melalui sebuah movie fantasi keluarga. Bagaimana sikap melankolis Duckhun (Kim Hyang-gi) terhadap anak-anak, ketegasan Haewonmak (Ju Ji-hoon) di kehidupannya sebelum mati, hingga kemampuan untuk mawas diri Gang-rim (Ha Jung-woo). Dapat dibilang movie ini paket komplet tayangan keluarga yang akan mempersembahkan ramai pelajaran untuk semua usia.

Sayangnya, movie ini justru lemah di babak awal. Konflik yang disimpan di akhirlah yang pada kurang demi kurang menjawab bukti tanya penonton

Kocak banget nih scene-nya! by way of www.kincir.com

Meski bukan jenis movie berdana besar, sebenarnya movie At the side of The Gods sudah menunjukkan bahwa mereka begitu berusaha dalam menggarap movie. Tidak terkecuali soal efek CGI-nya. Kru bahkan berani menampilkan hewan-hewan purba dinosaurus layaknya di Jurassic Park. Tidak sempurna, tapi tidak berakhir buruk, sehingga cukup ‘mengganggu’ penonton dalam mengikuti kisah.

Movie garapan Yong-hwa ini justru lemah di awal. Penonton dibuat bingung dengan para father or mother yang bertugas secara terpisah dan bukti tanya yang cukup besar; mengapa Gang-rim sedemikian rupa mempertaruhkan seribu tahun pengabdiannya untuk mengabulkan reinkarnasi satu jiwa. Selain hal ini, wajib ramai komedi yang cukup menggigit yang mampu membius penonton. Selain type rambut Ju Ji-hoon yang tiba-tiba berubah lepek dan kembali mohawk. 😀

Movie ini cocok disaksikan oleh para orangtua bersama anak remajanya (tentunya yang telah dapat baca subtitle dong) dan sebagai refleksi dari kehidupan di sekitar kita. Jangan kaget kalau pulang menonton, kamu jadi merenungkan kesia-siaan dalam hidupmu dan segala perbuatan buruk yang sudah kamu lakukan. Lumayan, kan, buat mengingatkanmu kembali ke jalan yang benar. 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close