Akhirnya Bisa Kenalan Lagi dengan Musik Indonesia Masa Kini, Cuma di Synchronize Fest 2018

Jujur saja kalau ketika ini kita lebih sering menikmati karya musik dari para musisi yang lagi hangat-hangatnya. Pasalnya, para band lawas usai jarang tampil atau mengeluarkan lagu-lagu barunya. Seperti yang terjadi di Synchronize Fest 2018 yang berlangsung pada five,6,7 Oktober 2018 di Gambir Expo – JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Sebuah competition musik lintas style dan generasi ini menghadirkan ramai musisi Tanah Air yang secara usia kiprahnya dapat dibilang belum tergolong senior, misalnya Kunto Aji, Danilla, Barasuara, Fourtwnty, dan Fact Membership. Namun, kelihatan nama-nama yang disebutkan tadi usai malang melintang di belantika musik Indonesia.

Synchronize Fest 2018

Aksi panggung mereka tidak kalah dengan para musisi lawas. Mereka pandai berinteraksi dengan penonton yang mayoritas kaum milenial, musiknya sukses membuat siapapun yang melihat ikut berjigkrak; berjoget, maupun terhanyut ke dalam suasana romantis berkat lirik dan aransemen yang melankolis. Lebih detailnya, bagaimana ya penampilan musisi-musisi bintang masa kini di competition musik lintas style dan generasi ini?

Hari Pertama

Memulai dengan Daramuda Undertaking untuk melihat kolaborasi tiga penyanyi indah bersuara merdu. Membosankan atau nggak, ya?

Daramuda Undertaking

Awalnya, Gigs Level menjadi plihan saya untuk melihat penampilan dari Adhitia Sofyan. Akan tetapi, melihat antrian di luar Gigs Level yang berada di sebuah ruangan sempit membuat saya mengikhlaskan diri untuk gagal lagi menikmati musik pria berkacamata ini. Saya pun memilih nonton aksi panggung kedua Daramuda Undertaking yang terdiri dari tiga penyanyi indah dengan gitar akustik kesayangan mereka. Sandrayati Fay, Rara Sekar, dan Danilla tampil baik dengan kesungguhan mereka menyanyikan lagu-lagunya.

Daramuda Undertaking

Kenikmatan melihat aksi panggung kedua Daramuda Undertaking di XYZ Level sempat terusik lantaran terganggu dengan suara dari band yang sedang tampil di panggung lainnya. Maklum, mengandalkan gitar akustik saja pasti tak mudah berlomba dengan lagu metalnya Mesin Tempur yang berada di Dynamic Level, walau di ujung space. Di sisi lain, saya pun mengingat komentar seorang teman yang mengatakan penampilan Daramuda Undertaking dapat saja tidak diminati jika nggak terdiri dari Sandrayati Fay, Rara Sekar, dan Danilla–yang usai tenar duluan–karena lagunya dianggap membosankan.

Para penonton sungguh sungguh mayoritas tidak ikut bernyanyi, namun Daramuda Undertaking sukses membawakan suasana senja lewat vokal merdu yang dipadu dengan bebunyian syahdu gitar akustik. Lagu-lagu Daramuda Undertaking ramai terinspirasi dari semesta alam, seperti “Apati” oleh Rara Sekar, “Renjana” oleh Danilla, dan “Suara Dunia” oleh Sandrayati Fay. Rasanya sungguh sungguh pas sebagai pertunjukanya menyambut senja, ya? Pun demikian dengan komunikasi interaktif mereka bertiga kepada penonton selama tampil membuat Synchronize Fest di XYZ Level cukup menghibur.

Setelah akustikan, sepertinya butuh penyemangat untuk menikmati competition musik lewat goyang santai bersama Sore

Sore by means of www.instagram.com

Sore hadir menyapa penonton Synchronize Fest 2018 pada pukul 19.45 WIB lewat lagu-lagu santai yang membuat tubuh haram jika nggak berjoget mengikuti irama. Liriknya yang bikin galau overall seperti “R14”, “Setengah Lima”, “Plastik Kita”, dan “Sssst” membuat saya dan penonton lainnya sing alongside bareng mereka. Terlebih kekonyolan vokalisnya (Ade Paloh) ketika berinteraksi dengan penonton bikin makin betah menikmati aksi mereka. Saya yakin penampilan Sore di Lake Level Synchronize Fest 2018 membawa suansa Jumat malam terasa romantis dan penuh hal-hal manis bagi yang datang dengan kesayangannya.

Belum sah datang ke competition musik kalau tidak lihat penampilan Danilla (kali ini sendirian) dan Barasuara, dua musisi begitu kekinian

Barasuara

Datang ke competition musik kayak Synchronize Fest sungguh sungguh harus dalam keadaan prima. Karena selama tiga hari harus lincah dari panggung ke panggung, seperti yang saya alami sejak hari pertama. Tenaga makin terkuras setelah menyaksikan Sore dan Koil, kemudian berlanjut nonton penampilan solo Danilla di District Level yang hampir bersamaan dengan Barasuara. Melihat aksi panggung penyanyi cewek yang kerap menuliskan lagu-lagu sedih membuat siapapun yang berada di sana untuk diam sejenak menikmati kepiluan. Entah sungguh sungguh sedang sendu atau teringat masa kemudian yang kelam, Danilla mengajak kita untuk tak mengapa menikmati kesedihan. Membuka penampilan lewat lagu “Terdapat di Sana” dan “Kalapuna”, semuanya terbawa suasana pilu dari Danilla.

Iga Massardi Barasuara

Di panggung lainnya, Barasuara yang tampil hampir bersamaan dengan Danilla menunjukkan energinya dengan lagu-lagu upbeat-nya. Band yang sedang di puncak kiprahnya ini sepertinya sungguh sungguh selalu sukses memeriahkan konser dengan aksi panggung kerennya. Bukan sekadar andalkan musik rock biasa, tapi dua vokalis cewek dengan kostumnya yang berumbai membuat penampilan mereka ibarat memiliki penari latar saja. Dengan memainkan kostum berumbainya itu, Asteriska dan Puti mampu menyihir para penunggang badai (sebutan lovers Barasuara) dengan gerakkannya yang lincah dan vokalnya yang merdu. Demikian pula dengan anggota Barasuara lainnya yang masing-masing menggebrak panggung Dynamic Level. Yang saya suka yaitu tiap anggota Barasuara kerap berusaha berinteraksi ke penonton sambil memanaskan suasana lewat aksi energiknya. Lagu-lagu hits seperti “Sendu Melagu”, “Api dan Lentera”, dan lagu baruya sukses memuaskan malam itu.

stevenandcoconuttreez by means of www.instagram.com

Tak kalah dengan Barasuara, buat yang ingin bergoyang dan menikmati musik reggae dapat menyaksikan Steven & Coconut Treez di Lake Level. Lewat lagu andalannya, Steven & Coconut Treez menghadirkan aransemen yang bikin siapapun di sana tidak tahan untuk menggoyangkan badan.

Hari Kedua

Berbeda dengan hari pertama, di hari kedua rombongan line up usai tampil sejak siang. Namun saya memilih datang sore untuk menikmati Ras Muhamad yang baru balik dari tur Eropa-nya 

Ras Muhamad by means of www.instagram.com

Suasana Synchronize Fest 2018 hari kedua berbeda dengan hari pertama. Penonton pada 6 Oktober 2018 ini lebih berlimpah, meski tetap ramai didominasi anak muda kekinian. Para line up mulai tampil sejak siang seperti Pijar dan The Panas Dalam, namun saya memilih datang sore hari lantaran berniat menyaksikan penampilan Ras Muhamad di Dynamic Level. Musisi reggae kebanggaan Tanah Air  yang baru balik dari tur panjang Eropa-nya ini kerap berinteraksi dengan penonton dan menceritakan kurang kegiatannya kemarin di Eropa. Selain Ras Muhammad, terdapat Kunto Aji yang lagu-lagunya ramai digilai kaum milenial. Mengutip komentar teman yang menyaksikan Kunto Aji di District Level, penampilan Kunto kali ini sedikit mengasyikan lantaran lagu-lagu yang dibawakan di awal ramai yang baru. Andaikan diselingi dengan lagu lama secara lebih proporsional, mungkin pertunjukkannya bakal lebih seru.

Buat yang penasaran kayak gimana dangdut-hiphop Jawa, penampilan dari NDX AKA menjadi petunjuk kalau dangdut juga dapat dinikmati siapa saja, meski beda latar belakang

NDX AKA by means of www.instagram.com

Malam minggu semakin sempurna lewat keseruan dangdut-hiphop Jawa yang dibawakan NDX AKA. Meski berhabasa Jawa, NDX AKA di District Level berhasil menyatukan segala perbedaan di kalangan pengunjung Synchronize Fest 2018. Apapun latar belakangnya, tidak menyurutkan para penonton untuk ikut bernyanyi dan berjoget bersama. Lewat NDX AKA, dangdut bukan lagi style musik yang kampungan. Di panggung lainnya terdapat HIVI! yang mengantarkan lagu-lagu favorit penonton seperti “Orang Ketiga” dengan aransemen melow-ceria. Berlimpah para remaja yang bergoyang kurang mengikuti lantunan lagu dan bernyanyi bersamaNamun tidak jarang juga yang memilih menikmati penampilan HIVI! sambil duduk saja lantaran menganggap musiknya HIVI! yaitu musik yang lebih asyik dinikmati dengan duduk santai bersama teman.

HIVI! by means of www.instagram.com

Hari Ketiga

Terdapat ramai pilihan musisi muda di hari terakhir. Mulai dari pengusung musik pop seperti RAN hingga grup kasidahan mamah-mamah Nasida Ria yang bikin penonton kecewa lantaran tampil cuma sebentar

Nasida Ria

Para penikmat musik yang datang ke Synchronize Fest 2018 dapat dibilang begitu terhibur dengan penampilan dari grup kasidahan mamah-mamah Nasida Ria. Tampil kompak dengan baju kelap-kelip berwarna ungu, para mamah-mamah yang populer lewat iklan kocak di bulan puasa kemarin membuat penonton menikmati suasana baru di competition musik. Mengantarkan lagu terkenal seperti “Perdamaian” dan “Suasana di Kota Santri”, mereka mampu menghipnotis penonton sesaat menuju senja. Apalagi ketika para mamah beraksi dengan alat musik masing-masing membuat penonton histeris berteriak “mamah, mamah”. Sayangnya, penonton kecewa lantaran penampilan Nasida Ria berlebihan cepat, sehingga ramai yang merasa aksi panggung mereka terasa “kentang”.

RAN by means of www.instagram.com

Pertunjukkan menarik diberikan oleh RAN yang pertama kali ini tampil di Synchronize Fest dengan kostum kompak serba denims bermotif – lengkap dengan tarian-tariannya. Rayi, Asta, dan Nino lincah ke sekian banyak sisi panggung untuk berinteraksi dan bernyanyi bersama penonton. Lagu popnya yang mudah dinyanyikan pasti membuat suasana malam itu meriah, terlebih adanya semburan asap warna-warni yang mencirikan keceriaan RAN berhasil meriuhkan suasana.

Shaggy Canine by means of www.instagram.com

Setelah seru-seruan nan romantis bareng RAN, penonton ramai yang bergeser ke panggung Shaggydog di Dynamic Level. Yang menanti penampilan mereka ramai sekali dan semua kompak bergoyang mengikuti lantunan lagu tanpa lelah. Rasa capek, perut lapar, dan kaki pegal pun seperti hilang paling saja saat grup asal Jogjakarta ini tampil. Pun demikian dengan Rocket Rockers, Superman Is Lifeless (SID), dan Fourtwnty yang masing-masing menyampaikan performa yang impresif.

Penyelenggaraan competition musik selama tiga hari-tiga malam itu menjadi petunjuk bahwa musisi muda Indonesia tidak kalah menarik dengan para musisi lawas. Karya musiknya yang makin beragam mampu berikan warna di industri musik Tanah Air. Semakin ke sini, para penikmat musik punya tambahan referensi lagu yang ingin didengar. Kini, tak terdapat lagi sebab untuk nggak mendengarkan musik Indonesia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close