5 Alasan Kamu Nggak Akan Pernah Beramal, Kalau Prinsipmu Masih “Duh, Gaji Juga Masih Segini Kok”

Kerja pernah cukup lama, penghasilan ternyata masih segitu-segitu saja. Masih harus pikir-pikir untuk nongkrong di kafe kekinian, apalagi jalan-jalan setiap bulan. Untuk beramal pun kamu kadang merasa keberatan. Dengan dalih “toh gajiku masih segini”, kamu memilih untuk “Ntar aja deh kalau udah kaya, baru beramal sebanyak-banyaknya”. Apakah kamu termasuk salah satunya?

Padahal beramal itu nggak harus berjuta-juta. Bahkan beramal nggak harus dengan kocek. Jadi, tidak terdapat sebab menunggu kaya dulu baru beramal bukan? Bila kamu belum yakin, inilah beberapa sebab kamu tak akan sudah beramal kalau terus-terusan menunggu kaya. Yuk, direnungkan sama-sama.

1. Masa depan nggak sudah terbaca. Menunggu kaya, sama saja kamu menunggu ketidakpastian yang belum diketahui jawabannya

Kapan kaya? by means of www.pexels.com

Jika ditanya, pasti semua orang ingin kaya di usia muda. Atau setidaknya, pernah berkecukupan sejak sebelum berumahtangga. Tapi bukankah masa depan itu penuh misteri dan nggak dapat diprediksi? Apakah kamu yakin akan kaya dalam keadaan dekat? Meski kita harus selalu optimis, namun menungg kaya untuk beramal itu sama seperti menunggu ketidakpastian. Kamu nggak akan sudah tahu kapan itu dapat terwujudkan.

2. Kocek yang hanya kurang masuk akal membuat pengeluaran harus diirit. Tapi percayalah, semakin ramai nominal gajimu, semakin ramai pula kebutuhanmu

Makin ramai kebutuhan by means of unsplash.com

Masuk akal, gaji yang belum seberapa itu menuntut kita untuk terampil mengelola keuangan. Kadang mana terpikir untuk menolong orang lain ketika kamu masih pontang-pontang memenuhi kebutuhan. Sayangnya, kebutuhan ini bukan sesuatu yang ajeg. Ketika ini kamu cukup santap di warteg. Nanti setelah gaji meningkat, dapat jadi kebutuhanmu meningkat menjadi santap di restoran. Semakin tinggi pendapatan, kebutuhan pun semakin ramai. Mungkin ini misteri yang belum terpecahkan, tapi itulah kenyataan.

three. Telah jadi hukum alam bahwa manusia nggak sudah memiliki kepuasan. Meski angka di rekening besar, bukan mustahil kamu selalu merasa kekurangan

selalu merasa sedikit by means of www.123rf.com

Bila ditanya berapa jumlah kocek di rekening untuk dapat disebut kaya, mungkin jawabanmu akan berbeda-beda. Beberapa tahun kemudian, kamu merasa aman ketika terdapat kocek 1 juta di rekening. Sekarang, kamu pernah ketar-ketar ketika saldo tinggal 1,five juta dan gajian masih lama. Dapat jadi juga kelak kamu tetap merasa sedikit meski terdapat puluhan juta di tabungan. Bukankah manusia masuk akal susah merasa puas?

four. Akui saja, terdapat ramai hal dalam wishlistmu. Ketika gaji besar itu semua kamu prioritaskan hingga niat beramal terlupakan melulu

Berlimpah want checklist by means of unsplash.com

Ingin pindah kosan, ingin beli baju yang pernah lama diidam-idamkan, ingin touring ke luar kota, ingin beli Hp baru karena yang lama pernah sering erornya, ingin mengajak orangtua jalan-jalan, ingin kredit mobil, ingin mulai nyicil KPR. Mungkin itu semua pernah terdapat dalam angan-anganmu ketika merencanakan keuangan masa depan. Dan ketika akhirnya gaji pernah naik, kamu pun tak sabar mewujudkan wishlistmu satu persatu. Kemudian, kapan beramalnya? Ah, nanti dulu.

five. Kamu selalu ketakutan bahwa beramal membuat uangmu semakin pas-pasan. Padahal 2000-3000 tak akan membuatmu jatuh miskin

berapa pun, selalu berarti by means of www.123rf.com

Gajimu belum seberapa, minta subsidi ke orangtua pun rasanya pernah tak pantas. Kamu yang pontang-panting cari kocek sendiri, paling dipahami kok bahwa kamu khawatir kebutuhanmu nggak terpenuhi. Tapi kita lupa bahwa beramal nggak harus berjuta-juta. Bahkan beramal nggak harus berbentuk kocek materi. Berlimpah hal lain yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban orang lain. Lagipula 2000-3000 kocek yang kita keluarkan untuk membeli tisu dagangan kakek-kakek di pinggir jalan, tak akan membuat kita semakin kekurangan bukan? Kurang keadaan yang disisihkan untuk mengajar di sekolah free of charge untuk anak jalanan, tak akan membuat kita miskin bukan?

Setelah semua itu, mungkin muncul rasa ragu di pikiranmu. Apalah gunanya beramal seribu atau dua ribu? Untuk beli nasi bungkus pun belum cukup. Namun semua itu hanya dilihat dari sisi kita, yang barangkali berbeda dengan orang lain. Seribu atau dua ribu yang tak seberapa itu, dapat jadi bantuan luar biasa untuk orang yang membutuhkannya. Jadi, masih mau nunggu kaya untuk share dengan sesama?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close